Selamat Datang, Bapak Prof.Drs.Sirozi,M.A.,Ph.D Wakil Rektor 1,2,3,Bpk Ibu Dekan, Bpk Sekretaris Kopertais Wilayah VII,beserta jajaran UIN RF | Bpk Ibu Kepsek,Guru,Dosen dan Tamu Undangan Dalam rangka Penandatanganan Nota Kesepahaman UIN RG dan STEBIS IGM ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------untuk Mahasiswa | Konsultasi Akademik Klik Disini atau Hubungi Kami Klik Disini,
 

Tari Gending Sriwijaya Dimusnahkan, Ini Dia Penjelasannya

tari gending sriwijaya

 

STEBIS IGM, PALEMBANG - Berita akan dimusnakannya tari geding sriwijaya mematik reaksi banyak pemerhati budaya dan sejarah. 

Peneliti Pusat Pengembangan Arkeolog Nasional Bambang Budi Utomo juga kaget mendengar adanya kabar tidak sedap itu.

Apabila benar ada pernyataan dari Kepala Dinas Kebudayaa Palembang, Sudirman Teguh bahwa Gending Sriwijaya ada nuansa Budha maka ia dinilai tidak punya visi kebudayaan. Pria yang sejak lama meneliti perkembangan kerajaan Sriwijaya ini menjelaskan tentang asal muasal tari Gending Sriwijaya.

 

Berikut Cerita dan Unek-unek yang pandangannya itu ditulis di status facebooknya, Senin (20/3/2017).

 

Kehadiran Sriwijaya di masyarakat Sumatera Selatan baru dikenal namanya sekitar tahun 1930-an.

Itu juga baru di lingkungan orang pintar. Nama Sriwijaya mulai dikenal pada tahun 1913 ketika seorang ahli epigrafi Belanda H Kern berhasil membaca Prasasti Kota Kapur dari Pulau Bangka.

Ahli tersebut menafsirkan nama sriwijaya sebagai nama seorang raja. Diambil dari kata “sri” yang biasa dipakai di depan nama gelar seorang raja.

Kemudian pada tahun 1918, hasil pembacaan Kern tersebut dikoreksi oleh Coedes, seorang ahli epigrafi bangsa Perancis.

Dalam telaahnya yang didasarkan atas berita Tionghoa dan sumber-sumber prasasti, disebutkan bahwa kata “Sriwijaya” yang terdapat dalam Prasasti Kota Kapur adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera Selatan dengan pusat pemerintahannya di kota Palembang.

Berdasarkan telaah dari kedua pakar epigrafi tersebut, dapat disimpulkan bahwa nama “sriwijaya” baru dikenal setelah tahun 1918.

Kemungkinan nama itu mulai terdengar di telinga wong Palembang setelah tahun 1930-an, yaitu ketika Schnitger, seorang Kontrolir Belanda di Palembang, aktif melakukan survei dan inventarisasi peninggalan budaya zaman baheula di Sumatera, khususnya Palembang.

Ini artinye, nama Sriwijaya tidak melegenda di kalangan masyarakat Sumatera Selatan, khususnya di Palembang.

Hal ini berbeda dengan nama Majapahit yang melegenda di kalangan masyarakat Jawa dan Bali, khususnya masyarakat di Jawa Timur.

Hampir semua lapisan masyarakat asli Jawa Timur dari kota sampai kampung, kalau ditanya tentang Majapahit mereka dengan lancar bertutur tentang Majapahit, bahkan mengaku masih keturunan Majapahit.

Lantas bagaimana “Gending Sriwijaya”?  Banyak wong Palembang percaya bahwa tarian gending tersebut asalnye dari masa Sriwijaya yang berkembang pada abad ke-7-12 Masehi.

“Lha pigimane asalnye dari zaman Sriwijaya, kalo name Sriwijaya aje baru dikenal belakangan di abad ke-20? Lantas kapan itu gending diciptain wong Plembang?”

Ketika budayawan Plembang, Djohan Hanafiah masih hidup, Bambang sempat bertanya soal Gending Sriwijaya.  

Kata Djohan, gending itu diciptakan setelah melalui suatu proses nyang panjang sampai dipentaskan tahun 1944.

Memang benar tarian Gending Sriwijaya diciptakan buat nyambut tetamu yang datang ke Keresidenan Palembang. Waktu itu yang dipilih sebagai penata tari Tina Hadji Gong ame Sukainah A Rozak.

Konsep nyang ngelatarinya diambil dari unsur-unsur tari adat Palembang nyang sudah ada waktu itu.

Pernak-pernik tarinya diambil dari yang ada waktu itu, seperti pakaian dari songket sama tepak sirih selengkapnya.

Kalau dulu dipakai buat nyambut tetamu agung, sekarang ini sudah dipakai di upacara-upacara biasa, kayak upacara pengantenan.

“Terus dimane kebuddhaannye kayak nyang diliat ame Sudirman Teguh? Dari pakeannye aje kayak pakean adat Melayu kayak nyang ade di daerah Riau,” Tanya Bambang.

Sedangkan untuk musik sama lagu pengiringnya diciptakan A Dahlan Muhibat. Dia itu seorang penggesek biola dari kelompok musik Bangsawan Bintang Berlian. Kabarnya dia menciptakan lagu sekitar tiga bulan.

Sebelon tahun itu, Muhibat pernah nyiptain lagu di tahun 1936 (waktu itu nama Sriwijaya sudah mulai dikenal) nyang judulnye “Sriwidjaja Djaja”.

Dengan latarbelakang komposer, dia gabungin dua lagu ciptaan tahun 1943 sama 1936. Syair lagu Gending Sriwijaya dibikin oleh Nungtjik AR yang bisa diselesain tahun 1944.

Kalo kita perhatikan syair lagu Gending Sriwijaya, si penyairnya sudah tahu sejarah Sriwijaya. Dia bisa ngerangkum kata/nama “Dharmapala Sakya Khirti Dharma Khirti”, “Gautama Buddha”, “Borobudur”, “Sri Kesitra”, ame “Maharaja Syailendra”.

Semua itu satu sama lainnya saling berhubungan dalam satu rangkaian cerita sejarah dimana waktu itu masyarakat Sriwijaya menganut ajaran Buddha. Jadi, dengan kata lain Nungtjik A.R  tidak sembarangan nulis atau ngarang.

Tari Gending Sriwijaya memang ada nuansa Budha, tapi itu fakta sejarah yang sudah dipelajari oleh si penyairnya.

Bambang menilai, sudah tidak zamannya lagi nyingkirin hasil budaya cuma didasarkan sama latar ajaran atau agama.

Emang bener waktu zaman Kesultanan Plembang Darussalam masyarakat Palembang sudah menganut agama Islam.

Bahkan Keraton Palembang pernah jadi pusat agama Islam di Sumatera. Boleh-boleh saja diciptain lagi sebuah karya seni tari dan musik untuk penyambutan tetamu yang bernuansa Islam, tapi jangan menyingkirkan yang sudah ada. (wan)

 


Sumber: sumsel.tribunnews.com| Senin, 20 Maret 2017 19:19

 

 

 

Kirim ke teman | Versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya