Selamat Datang, Bapak Prof.Muhammad Nasir, S.E., MS UMI Makasar Dr. Haryadi, S.E., M.Sc dari UNSOED------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------untuk Mahasiswa | Konsultasi Akademik Klik Disini atau Hubungi Kami Klik Disini,
 

Wajah Baru Stadion Gelora Bung Karno

 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Minggu malam kemarin meresmikan wajah baru Stadion Utama Gelora Bung Karno di Senayan Jakarta. Peresmian ditandai dengan laga pertandingan kesebelasan Timnas Indonesia melawan Islandia. Sehari sebelumnya Jokowi memuji renovasi SUGBK yang kelar 100 persen tujuh bulan sebelum digunakan untuk Asian Games XVIII, Agustus nanti.

 

Stadion ini pertama kali diresmikan oleh Presiden Sukarno pada 21 Juli 1962 untuk Asian Games IV. Indonesia ditunjuk oleh Asian Games Federation tepat setelah Asian Games III di Tokyo, Jepang. Namun ada syarat minimum yang harus dipenuhi oleh Indonesia selaku tuan rumah, yakni adanya kompleks multiolahraga.

 

Presiden Sukarno menjawab tantangan tersebut dengan menerbitkan Keppres No 113/1959 tanggal 11 Mei 1959 tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI). Dewan ini dipimpin oleh Menteri Olahraga Maladi. Arsitek kesayangan Bung Karno, Frederik Silaban juga masuk dalam susunan pengurus DAGI.

 

Semula lokasi yang dipilih adalah di dekat Jalan MH Thamrin dan Menteng, yaitu kawasan Karet, Pejompongan, atau Dukuh Atas. Sukarno juga mengusulkan kawasan Bendungan Hilir atau Rawamangun.

 

Tapi Frederik Silaban yang mendampingi Sukarno saat meninjau lokasi melalui helikopter, tak menyarankan semua lokasi terseut karena akan memperparah kemacetan dan juga rawan banjir. Alternatif pilihan berikutnya adalah kawasan Senayan seluas kurang lebih 300 hektar. Pilihan ini disetujui Frederik Silaban.

 

Setelah diberikan pengertian dan ganti rugi, warga kampung Senayan sekira 60.000 jiwa dipindahkan ke perumahan baru di Tebet, Slipi, dan Ciledug. Pada 8 Februari 1960, Bung Karno melalukan pemancangan tiang pertama proyek pembangunan GBK.

Saat merancang Stadion, Presiden Sukarno terinspirasi kemegahan bangunan Stadion Pusat Lenin di Moskow, Uni Soviet. Dalam kunjungannya ke negara tersebut pada 1956, Bung Karno menantang semua arsitek di Uni Soviet merancang sebuah stadion olahraga yang dapat melindungi semua penontonnya dari hujan dan panas matahari. Dia ingin sebuah stadion dengan atap Temu Gelang.

 

Temu gelang adalah sebuah atap yang menyambung secara melingkar mengikuti lintasan olahraga. Desain atap temu gelang tak hanya unik, tapi seluruh penampilannya juga terbentuk secara ritmis dan harmonis dalam kesatuan yang padat. Keunikan atap terletak pada pertemuan pilar-pilar tipis penyangga konstruksi.

 

Hampir semua arsitek yang ditemui Sukarno mengatakan ide itu tak lazim. Menurut mereka, umumnya stadion hanya bisa dirancang dengan atap sebagian. Namun Sukarno keukeuh ingin membangun sebuah gelanggang olahraga di Jakarta yang lebih megah daripada Stadion Pusat Lenin.

 

"Tidak, saya katakan sekali lagi, tidak. Atap stadion kami harus temu gelang," kata insinyur lulusan Technische Hogeschool te Bandoeng--sekarang Institut Teknologi Bandung--pada 25 Mei 1926 itu.

 

"Tidak lain, tidak bukan, saya ingin Indonesia bisa tampil secara luar biasa," dia menambahkan, seperti dikutip dalam buku Bung Karno Sang Arsitek karya Yuke Ardhiati.

 

Pembangunan SUBK melibatkan sekitar 40 sarjana teknik dari Indonesia yang memimpin sekitar 12.000 pekerja sipil dan militer yang bekerja selama tiga shift siang dan malam. Semuanya didampingi langsung oleh tenaga ahli dari Uni Soviet, Hongaria, Swiss, Jepang, Prancis, dan Jerman.

 

Akhirnya mimpi Bung Karno membangun stadion dengan atap temu gelang itu terwujud. Dalam pidatonya kepada atlet peserta pelatihan nasional untuk Asian Games, 22 Agustus 1962, Bung Karno membeberkan kebanggaannya.

 

"Saya memerintahkan kepada arsitek Uni Soviet, bikinkan atap temu gelang daripada main stadium yang tidak ada di lain tempat di seluruh dunia. Bikin seperti itu. Meski pun mereka tetap berkata, yah tidak mungkin Pak. Tidak biasa, tidak lazim, tidak galib, kok ada stadion atapnya temu gelang, di mana-mana atapnya ya hanya sebagian saja. Tidak, saya katakan sekali lagi, tidak. Atap stadion kita harus temu gelang," Presiden Sukarno dalam pidatonya.

 

Stadion ini memiliki lima lantai nan megah di dalamnya. Lantai satu sampai tiga merupakan tribun atas, denga sumbu bangunan membujur dari utara ke selatan sepanjang 354 meter. Sumbu pendeknya membentang dari timur ke barat 325 meter.

Stadion ini dikelilingi oleh jalan lingkar sepanjang 920 meter ring dalam dan 1.100 meter ring luar. Di bagian dalam stadion terdapat trek berbentuk elips seluas 1,75 hektar dengan sumbu panjang 176,1 meter dan yang pendek 124,32 meter. Lapangan sepakbola berukuran 105x70 meter.

 

Stadion dengan wajah baru ini memiliki kapasitas 80.000 penonton dengan kualitas kursi lebih bagus. Jenisnya satu kursi (single seat) dan lipat (flip up) yang telah memenuhi standar aksesibilitas evakuasi. Setiap kursi mampu menahan beban hingga 250 kilogram dan tidak mudah ditarik sehingga menahan aksi vandalisme.

 

"Stadion ini juga sudah mengikuti standar FIFA dalam aspek keamanan yakni dalam kondisi darurat, dalam waktu 15 menit, stadion sudah harus kosong," tulis Presiden Jokowi dalam akun Facebooknya @Jokowi.

 

Stadion ini akan diterangi lampu berkekuatan 3.500 lux yang tiga kali lebih terang dari sebelumnya tapi 50 persen lebih hemat karena menggunakan LED, bukan lagi lampu konvensional. "Dari segi pencahayaan, ini salah satu yang terbaik di dunia saat ini," tulis Jokowi.

 

 

 

Kirim ke teman | Versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya