mail@stebisigm.ac.id
Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Syariah
Lebaran 2016 di Prediksi Kompak

SAMBUT RAMADHAN: Para ulama, habib dan tokoh masyarakat berbaur dengan ribuan umat Islam mengikuti Pawai Ramadhan usai Tabligh Akbar di pelataran Benteng Kuto Besak, kemarin. Foto: Alfery/Sumatera Ekspres
JAKARTA - Sebagaimana diprediksi sebelumnya, 1 Ramadan jatuh pada hari ini (6/6). Kepastian itu diputuskan dalam sidang isbat tertutup yang dipimpin Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, kemarin. Dia menegaskan, tidak ada perbedaan penetapan awal puasa di antara ormas-ormas Islam di Indonesia.
Yang menarik, untuk kesekian kalinya sidang isbat dilaksanakan secara tertutup. Lukman menegaskan bahwa sidang yang tertutup itu bukan untuk menutup-nutupi akses informasi kepada publik. “Sidang tertutup ini masukan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI, red) dan pihak-pihak lainnya,” tuturnya, tadi malam.
Lukman menjelaskan bahwa mereka menggunakan pertimbangan manfaat dan mudarat dalam memutuskan sidang isbat digelar tertutup untuk umum. Kesimpulan dari perhitungannya adalah sidang isbat digelar tertutup justru lebih sedikit mudarat atau dampak negatifnya.
Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu berujar bahwa pembahasan di dalam sidang isbat itu sangat teknis. Umumnya konten yang dibicarakan dipahami oleh orang-orang yang memiliki latar belakang ilmu astronomi yang bagus. Dia khawatir jika sidang isbat ditayangkan live di televisi, bisa membuat masyarakat salah paham.
“Hasil masukan dari beberapa pihak, masyarakat itu lebih membutuhkan hasilnya (sidang isbat, red) ketimbang proses persidangannya,” jelas pria lulusan Pondok Darussalam Gontor itu. Dia berharap masyarakat Indonesia memanjatkan syukur karena tidak ada perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan 1437 H.
Terpusatnya, penetapan awal puasa di Kantor Kemenag Jakarta, juga menimbulkan dampak bagi masyarakat muslim di daerah waktu Indonesia timur (WIT). Tadi malam keputusan sidang isbat baru dipublikasi pukul 19.00 WIB. Itu artinya warga di Papua dan sekitarnya, mendapatkan kepastian awal puasa pada pukul 21.00 WIT.
“Ini adalah konsekuensi dari luasnya wilayah Indonesia,” tutur Lukman. Orang-orang muslim di Papua, menuturnya, juga menetapkan awal bulan puasa berdasarkan posisi hilal. Tidak terkait dengan jam sehari-hari.
Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat Ma’ruf Amin mendampingi Lukman dalam menyampaikan hasil sidang isbat, tadi malam. Ma’ruf menuturkan bulan puasa ini harus menjadi momentum bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk memperbaiki bangsa. “Bangsa Indonesia ini sudah darurat,” jelas dia.
Kiai kelahiran Banten 73 tahun lalu itu menuturkan banyak sekali gejala bahwa Indonesia sekarang sedang masa darurat. Seperti maraknya kejahatan seksual pada anak, aksi terorisme, dan narkoba yang terus bergentayangan. Ma’ruf menuturkan umat Islam selayaknya tidak memaknai bulan puasa untuk menjaga ukhuwah Islamiyah saja. “Tapi juga untuk menjaga ukhuwah wathaniyah (hubungan kebangsaan, red),” jelasnya.
Dengan berpuasa umat Islam dituntut untuk menjaga hawa nafsunya. Tidak hanya hawa nafsu untuk tidak makan, tetapi juga untuk perbuatan-perbutan buruk lainnya. Seperti berbuat jahat, korupsi, nafsu birahi, dan lain sebagainya. Setelah bulan puasa selesai, upaya menjaga hawa nafsu itu diharapkan terus dijaga.
Ma’ruf juga menyampaikan rasa syukur bahwa awal bulan puasa tahun ini kompak. Sehingga tidak ada lagi waktu dan tenaga yang terbuang untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan seperti yang penah terjadi. “Insya Allah Lebaran nanti juga kompak,” tandasnya.
Prediksi Ma’ruf itu tidak asal-asalan. Saat dilakukan pengamatan hilal pada 29 Ramadan nanti, posisi hilal masih di bawah ufuk. Menurut perhitungan astronomi, posisi hilal nanti minus (-) 1 derajat di bawah ufuk. Sehingga jumlah hari bulan puasa digenapkan (isti’mal) menjadi 30 hari. Sehingga 1 Syawal atau Lebaran jatuh pada Rabu, 6 Juli.
Sebelum sidang isbat digelar, Kemenag lebih dulu menjalankan sesi prasidang. Isinya adalah paparan perhitungan posisi hilal jelang 1 Ramadan. Paparan ini disampaikan oleh ahli astronomi dari Planetarium Jakarta Cecep Nurwendaya. Cecep mengatakan posisi hilal pada 29 Syaban 1437 kemarin cukup tinggi. Yakni 4,1 derajat di atas ufuk.
Merujuk pengalaman sebelumnya, tinggi hilal di atas dua derajat itu sudah bisa terpantau oleh rukyat atau pengamatan langsung. Dia mengatakan tinggi hilal yang berpotensi menimbulkan perbedaan penetapan hari besar Islam adalah ketika berada di antara 0-2 derajat di atas ufuk.
“Bagi yang menggunakan hisab, tinggi hilal di atas nol derajat itu sudah memenuhi kriteria awal bulan,” kata dia. Namun bagi yang menggunakan sistem rukyat, tinggi hilal 0-2 derajat itu hampir bisa dipastikan sulit terlihat saat pengamatan.
Jadi sebelum keluar keputusan sidang isbat, Cecep sudah memperkirakan bahwa awal puasa tahun ini kompak jatuh pada Senin 6 Juni. “Hilalnya sedang baik hati. Karena posisinya tinggi,” paparnya diselingi canda.
Tak Terpantau
Keputusan hari ini mulai puasa diambil Kemenag karena mendapat laporan keberhasilan memantau hilal. Ada enam titik pemantauan yang melaporkan berhasil memantau hilal. Yakni di Belu (Nusa Tenggara Timur); Jombang, Bangkalan, Gresik, dan Bojonegoro (Jawa Timur) serta Kebumen (Jawa Tengah).
Namun di sejumlah titik pengamatan hilal, tim tidak berhasil mengamati bulan muda itu. Termasuklah di Palembang. Tim Hisab dan Rukyat Sumsel melakukan peneropongan hilal di atas gedung sekolah Indo Global Mandiri (IGM). “Karena cuaca di sebelah barat Palembang kurang mendukung, hilal tertutup awan,” jelas Kepala Kanwil Kemenag Sumsel, Drs H Hambali MSi.
Meski begitu, hasil hisab, tepat pukul 17.59.08 WIB, saat matahari terbenam, ketinggian hilal tiga derajat 57 menit 35,1 detik di atas ufuk mar’i. “Posisinya di utara titik barat,” ungkapnya. Lamanya hilal 1.46,92 detik. Hilal terbenam pukul 18.17.10, 53.
Meski tak terpantau, hasil rukyat tersebut tetap dilaporkan langsung kepada Menag melalui Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag RI di Jakarta.
Ketua Tim Hisab dan Rukyat Kemenag Sumsel, Drs H Teguh Sobri, di daerah lain, ada yang sudah dapat melihat langsung hilal tersebut. “Tapi ada juga yang tidak terlihat seperti di Palembang,” jelasnya.
Ketinggian hilal yang hampir mencapai empat derajat dinilainya sudah masuk standardisasi banyak pihak, termasuk Kemenag. Ada yang dapat melihat hilal karena ini sudah cukup tiggi dari puasa tahun lalu. “Mudah-mudahan Lebaran Idulfitri juga,” harapnya.
Untuk kali ini, pengamatan sengaja dilakukan di atas gedung sekolah IGM Palembang dan direncanakan nantinya pelaksanaan hisab dan rukyat tahun mendatang bisa digelar di Kampus B UIN Raden Fatah Palembang Jakabaring.
Lokasi yang gagal melihat hilal adalah di kawasan DKI Jakarta dan di Kabupaten Bandung. Pengamatan hilal di gedung Kanwil Kemenag DKI Jakarta kemarin dinyatakan tidak berhasil melihat hilal. Meski dilakukan di lantai tujuh, kantor yang berada di daerah Jakarta Timur itu sebetulnya bukan tempat yang ideal untuk melaksanakan pemantauan. Pasalnya, barisan gedung-gedung tinggi berdiri berjejer, tepat di sebelah barat.
“Tinggi gedung itu sudah sekitar dua derajat dari ufuk,” kata Syarif Hidayat, salah seorang ahli falak Kemenag yang tunjuk memimpin pemantauan di lokasi tersebut.
Namun karena berdasarkan hitung-hitungan ilmu astronomi, hilal dari lokasi itu sudah berada dalam posisi 03,59 derajat dari ufuk, tim yang terdiri dari beberapa orang itu optimis hilal bisa terlihat. Terlebih, sejak siang hari cuaca di Jakarta tergolong cerah.
Tak ayal, sejak pukul 15.00, sudah ada banyak orang yang hadir di lokasi. Termasuk salah seorang hakim dari Pengadilan Agama Jakarta Timur, yang bertugas membacakan sumpah. Jika ada salah seorang pemantau yang melihat hilal. Dan semakin sore, lokasi semakin ramai.
Hingga akhirnya waktu tiba pukul 17.40, semua mata orang yang berada di atas gedung itu mulai memusatkan perhatian ke arah barat. Sebab, menurut hitungan ilmu astronomi, matahari akan tenggelam pada pukul 17.45 WIB. “Sejak saat itulah, sampai bulan terbenam pukul 18.03 adalah waktu kita melakukan pemantauan hilal,” imbuhnya.
Namun nahas, di detik-detik terakhir itu, langit yang sejak siang hari tampak cerah, sore itu menjadi gelap. Awan hitam bercampur asap kendaraan tampak menggelantung di ufuk barat langit Jakarta. Satu per satu pengunjung, tetap mencoba mengamati hilal melalui sebuah theodolite dan dua buah Binoculers yang disediakan.
Sayangnya, hingga waktu yang ditentukan selesai, tidak ada salah seorang pun yang mampu melihat hilal secara yakin. Selain cuaca yang kurang baik, fokus tim pemantau juga terganggu oleh kerlap-kerlip gedung-gedung pencakar langit di ibu kota.
Syarif menjelaskan, meski berdasarkan kasat mata hilal tidak terlihat, bukan berarti awal bulan belum bisa ditentukan. Pasalnya, berdasarkan hitung-hitungan ilmu falak, tinggi hilal sudah cukup untuk memastikan awal puasa. Karena sudah hampir empat derajat. “Itu sudah inkanu rukyat, sudah bisa dipastikan,” imbuhnya.
Sebab, dalam standar Kemenag, standar hilal yang dijadikan patokan adalah dua derajat di atas ufuk. “Tahun 1985, ada fakta empiris di mana hilal di atas dua derajat bisa dilihat. Nah itu yang dijadikan patokan,” kata pria yang juga Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Grogol tersebut. Sementara prosesi rukyat sendiri tetap dilakukan untuk memenuhi rukun penentuan awal bulan meski sudah dilakukan hisab.
Di tempat yang sama, Kasi Pembinaan Syariah Kanwil Depag Jakarta Ali Wafli menghimbau masyarakat Jakarta untuk menjalani bulan ramadhan ini dengan penuh tenggang rasa. “Saling menghormati antara yang puasa dan yang tidak,” tuturnya.
Pemantauan hilal di Observatorium Bosscha, Lembang, Kab. Bandung, Jawa Barat (Jabar), kemarin (5/6) juga tidak berhasil melihat hilal. Tiga petugas pengamat hilal yang diutus oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) yakni Zainuddin M. Arifin, Wildan Hidayat, dan Evan Irawan Akbar dibuat pusing dengan kondisi cuaca yang mendung, berawan pekat, dan bahkan sedikit berangin yang terjadi di lokasi yang memiliki ketinggian 1.310 meter dpl itu.
Padahal, mereka beserta rombongan timnya telah bersiap sejak siang hari beserta peralatan lengkapnya untuk mengamati hilal. Yakni tiga buah teleskop portabel jenis refraktor, William Optics 66 milimeter. Namun hingga adzan Maghrib terdengar, kondisi cuaca masih enggan mengalah, malah hujan yang turun.
Akhirnya, dengan terpaksa dan agak kecewa mereka harus membongkar teleskop yang telah dirakit. “Sudah nggak mungkin kelihatan mata telanjang, bahkan pakai teropong sekalipun,” kata salah satu petugas pengamat hilal di Observatorium Bosscha, Evan kepada Jawa Pos kemarin.
Dia menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang kurang ramah saat pemantauan hilal memang sudah menjadi langganan Observatorium Bosscha sejak dulu. Sejak dipercaya pemerintah untuk menjadi lokasi pengamatan hilal pada pada sembilan tahun silam, tepatnya pada 2007 lalu, keberhasilan para pengamat hilal untuk melihat hilal secara jelas bisa dihitung jari.
Yakni pada 2009, 2011, dan 2013. “Sisanya ya nggak kelihatan karena cuacanya buruk di sini,” tuturnya Kepala Observatorium Bosscha Mahasena Putera menyebut bahwa observatorium pertama sekaligus yang tertua di Indonesia tersebut bukanlah lokasi yang ideal untuk mengamati hilal. Dia menerangkan, selain langganan cuaca buruk, lokasi tersebut terlalu terganggu oleh cahaya lampu dari gedung dan pemukiman penduduk di sekitarnya.
“Yang ideal itu justru ada di Indonesia bagian Timur seperti di Kupang. Karena di sana langitnya jarang berawan seperti di sini,” terang pria yang mulai menjabat sebagai kepala sejak 2012 tersebut.
Kendati demikian, Mahasena tetap menyampaikan laporan hasil pengamatannya beserta tim pengamat hilal kepada sejumlah perwakilan yang hadir, di antaranya perwakilan dari Pengadilan Agama (PA) Kota Bandung, perwakilan Kementerian Agama (Kemenag), dan perwakilan Badan Hisab Rukyat (BHR) Kota Bandung.
“Kami sudah menjelaskan kepada mereka bahwa hilal mustahil terlihat karena cuaca yang tidak mendukung,” kata Mahesa. Tapi berdasarkan hitungan astronomis yang sudah baku, hilal sebenarnya sudah ada di sebelah kiri atas Matahari dengan selisih waktu terbenam 20 menit. lagi. (wan/far/dod/ce1)
Sumber: Sumeks
JAKARTA - Sebagaimana diprediksi sebelumnya, 1 Ramadan jatuh pada hari ini (6/6). Kepastian itu diputuskan dalam sidang isbat tertutup yang dipimpin Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, kemarin. Dia menegaskan, tidak ada perbedaan penetapan awal puasa di antara ormas-ormas Islam di Indonesia.
Yang menarik, untuk kesekian kalinya sidang isbat dilaksanakan secara tertutup. Lukman menegaskan bahwa sidang yang tertutup itu bukan untuk menutup-nutupi akses informasi kepada publik. “Sidang tertutup ini masukan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI, red) dan pihak-pihak lainnya,” tuturnya, tadi malam.
Lukman menjelaskan bahwa mereka menggunakan pertimbangan manfaat dan mudarat dalam memutuskan sidang isbat digelar tertutup untuk umum. Kesimpulan dari perhitungannya adalah sidang isbat digelar tertutup justru lebih sedikit mudarat atau dampak negatifnya.
Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu berujar bahwa pembahasan di dalam sidang isbat itu sangat teknis. Umumnya konten yang dibicarakan dipahami oleh orang-orang yang memiliki latar belakang ilmu astronomi yang bagus. Dia khawatir jika sidang isbat ditayangkan live di televisi, bisa membuat masyarakat salah paham.
“Hasil masukan dari beberapa pihak, masyarakat itu lebih membutuhkan hasilnya (sidang isbat, red) ketimbang proses persidangannya,” jelas pria lulusan Pondok Darussalam Gontor itu. Dia berharap masyarakat Indonesia memanjatkan syukur karena tidak ada perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan 1437 H.
Terpusatnya, penetapan awal puasa di Kantor Kemenag Jakarta, juga menimbulkan dampak bagi masyarakat muslim di daerah waktu Indonesia timur (WIT). Tadi malam keputusan sidang isbat baru dipublikasi pukul 19.00 WIB. Itu artinya warga di Papua dan sekitarnya, mendapatkan kepastian awal puasa pada pukul 21.00 WIT.
“Ini adalah konsekuensi dari luasnya wilayah Indonesia,” tutur Lukman. Orang-orang muslim di Papua, menuturnya, juga menetapkan awal bulan puasa berdasarkan posisi hilal. Tidak terkait dengan jam sehari-hari.
Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat Ma’ruf Amin mendampingi Lukman dalam menyampaikan hasil sidang isbat, tadi malam. Ma’ruf menuturkan bulan puasa ini harus menjadi momentum bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk memperbaiki bangsa. “Bangsa Indonesia ini sudah darurat,” jelas dia.
Kiai kelahiran Banten 73 tahun lalu itu menuturkan banyak sekali gejala bahwa Indonesia sekarang sedang masa darurat. Seperti maraknya kejahatan seksual pada anak, aksi terorisme, dan narkoba yang terus bergentayangan. Ma’ruf menuturkan umat Islam selayaknya tidak memaknai bulan puasa untuk menjaga ukhuwah Islamiyah saja. “Tapi juga untuk menjaga ukhuwah wathaniyah (hubungan kebangsaan, red),” jelasnya.
Dengan berpuasa umat Islam dituntut untuk menjaga hawa nafsunya. Tidak hanya hawa nafsu untuk tidak makan, tetapi juga untuk perbuatan-perbutan buruk lainnya. Seperti berbuat jahat, korupsi, nafsu birahi, dan lain sebagainya. Setelah bulan puasa selesai, upaya menjaga hawa nafsu itu diharapkan terus dijaga.
Ma’ruf juga menyampaikan rasa syukur bahwa awal bulan puasa tahun ini kompak. Sehingga tidak ada lagi waktu dan tenaga yang terbuang untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan seperti yang penah terjadi. “Insya Allah Lebaran nanti juga kompak,” tandasnya.
Prediksi Ma’ruf itu tidak asal-asalan. Saat dilakukan pengamatan hilal pada 29 Ramadan nanti, posisi hilal masih di bawah ufuk. Menurut perhitungan astronomi, posisi hilal nanti minus (-) 1 derajat di bawah ufuk. Sehingga jumlah hari bulan puasa digenapkan (isti’mal) menjadi 30 hari. Sehingga 1 Syawal atau Lebaran jatuh pada Rabu, 6 Juli.
Sebelum sidang isbat digelar, Kemenag lebih dulu menjalankan sesi prasidang. Isinya adalah paparan perhitungan posisi hilal jelang 1 Ramadan. Paparan ini disampaikan oleh ahli astronomi dari Planetarium Jakarta Cecep Nurwendaya. Cecep mengatakan posisi hilal pada 29 Syaban 1437 kemarin cukup tinggi. Yakni 4,1 derajat di atas ufuk.
Merujuk pengalaman sebelumnya, tinggi hilal di atas dua derajat itu sudah bisa terpantau oleh rukyat atau pengamatan langsung. Dia mengatakan tinggi hilal yang berpotensi menimbulkan perbedaan penetapan hari besar Islam adalah ketika berada di antara 0-2 derajat di atas ufuk.
“Bagi yang menggunakan hisab, tinggi hilal di atas nol derajat itu sudah memenuhi kriteria awal bulan,” kata dia. Namun bagi yang menggunakan sistem rukyat, tinggi hilal 0-2 derajat itu hampir bisa dipastikan sulit terlihat saat pengamatan.
Jadi sebelum keluar keputusan sidang isbat, Cecep sudah memperkirakan bahwa awal puasa tahun ini kompak jatuh pada Senin 6 Juni. “Hilalnya sedang baik hati. Karena posisinya tinggi,” paparnya diselingi canda.
Tak Terpantau
Keputusan hari ini mulai puasa diambil Kemenag karena mendapat laporan keberhasilan memantau hilal. Ada enam titik pemantauan yang melaporkan berhasil memantau hilal. Yakni di Belu (Nusa Tenggara Timur); Jombang, Bangkalan, Gresik, dan Bojonegoro (Jawa Timur) serta Kebumen (Jawa Tengah).
Namun di sejumlah titik pengamatan hilal, tim tidak berhasil mengamati bulan muda itu. Termasuklah di Palembang. Tim Hisab dan Rukyat Sumsel melakukan peneropongan hilal di atas gedung sekolah Indo Global Mandiri (IGM). “Karena cuaca di sebelah barat Palembang kurang mendukung, hilal tertutup awan,” jelas Kepala Kanwil Kemenag Sumsel, Drs H Hambali MSi.
Meski begitu, hasil hisab, tepat pukul 17.59.08 WIB, saat matahari terbenam, ketinggian hilal tiga derajat 57 menit 35,1 detik di atas ufuk mar’i. “Posisinya di utara titik barat,” ungkapnya. Lamanya hilal 1.46,92 detik. Hilal terbenam pukul 18.17.10, 53.
Meski tak terpantau, hasil rukyat tersebut tetap dilaporkan langsung kepada Menag melalui Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag RI di Jakarta.
Ketua Tim Hisab dan Rukyat Kemenag Sumsel, Drs H Teguh Sobri, di daerah lain, ada yang sudah dapat melihat langsung hilal tersebut. “Tapi ada juga yang tidak terlihat seperti di Palembang,” jelasnya.
Ketinggian hilal yang hampir mencapai empat derajat dinilainya sudah masuk standardisasi banyak pihak, termasuk Kemenag. Ada yang dapat melihat hilal karena ini sudah cukup tiggi dari puasa tahun lalu. “Mudah-mudahan Lebaran Idulfitri juga,” harapnya.
Untuk kali ini, pengamatan sengaja dilakukan di atas gedung sekolah IGM Palembang dan direncanakan nantinya pelaksanaan hisab dan rukyat tahun mendatang bisa digelar di Kampus B UIN Raden Fatah Palembang Jakabaring.
Lokasi yang gagal melihat hilal adalah di kawasan DKI Jakarta dan di Kabupaten Bandung. Pengamatan hilal di gedung Kanwil Kemenag DKI Jakarta kemarin dinyatakan tidak berhasil melihat hilal. Meski dilakukan di lantai tujuh, kantor yang berada di daerah Jakarta Timur itu sebetulnya bukan tempat yang ideal untuk melaksanakan pemantauan. Pasalnya, barisan gedung-gedung tinggi berdiri berjejer, tepat di sebelah barat.
“Tinggi gedung itu sudah sekitar dua derajat dari ufuk,” kata Syarif Hidayat, salah seorang ahli falak Kemenag yang tunjuk memimpin pemantauan di lokasi tersebut.
Namun karena berdasarkan hitung-hitungan ilmu astronomi, hilal dari lokasi itu sudah berada dalam posisi 03,59 derajat dari ufuk, tim yang terdiri dari beberapa orang itu optimis hilal bisa terlihat. Terlebih, sejak siang hari cuaca di Jakarta tergolong cerah.
Tak ayal, sejak pukul 15.00, sudah ada banyak orang yang hadir di lokasi. Termasuk salah seorang hakim dari Pengadilan Agama Jakarta Timur, yang bertugas membacakan sumpah. Jika ada salah seorang pemantau yang melihat hilal. Dan semakin sore, lokasi semakin ramai.
Hingga akhirnya waktu tiba pukul 17.40, semua mata orang yang berada di atas gedung itu mulai memusatkan perhatian ke arah barat. Sebab, menurut hitungan ilmu astronomi, matahari akan tenggelam pada pukul 17.45 WIB. “Sejak saat itulah, sampai bulan terbenam pukul 18.03 adalah waktu kita melakukan pemantauan hilal,” imbuhnya.
Namun nahas, di detik-detik terakhir itu, langit yang sejak siang hari tampak cerah, sore itu menjadi gelap. Awan hitam bercampur asap kendaraan tampak menggelantung di ufuk barat langit Jakarta. Satu per satu pengunjung, tetap mencoba mengamati hilal melalui sebuah theodolite dan dua buah Binoculers yang disediakan.
Sayangnya, hingga waktu yang ditentukan selesai, tidak ada salah seorang pun yang mampu melihat hilal secara yakin. Selain cuaca yang kurang baik, fokus tim pemantau juga terganggu oleh kerlap-kerlip gedung-gedung pencakar langit di ibu kota.
Syarif menjelaskan, meski berdasarkan kasat mata hilal tidak terlihat, bukan berarti awal bulan belum bisa ditentukan. Pasalnya, berdasarkan hitung-hitungan ilmu falak, tinggi hilal sudah cukup untuk memastikan awal puasa. Karena sudah hampir empat derajat. “Itu sudah inkanu rukyat, sudah bisa dipastikan,” imbuhnya.
Sebab, dalam standar Kemenag, standar hilal yang dijadikan patokan adalah dua derajat di atas ufuk. “Tahun 1985, ada fakta empiris di mana hilal di atas dua derajat bisa dilihat. Nah itu yang dijadikan patokan,” kata pria yang juga Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Grogol tersebut. Sementara prosesi rukyat sendiri tetap dilakukan untuk memenuhi rukun penentuan awal bulan meski sudah dilakukan hisab.
Di tempat yang sama, Kasi Pembinaan Syariah Kanwil Depag Jakarta Ali Wafli menghimbau masyarakat Jakarta untuk menjalani bulan ramadhan ini dengan penuh tenggang rasa. “Saling menghormati antara yang puasa dan yang tidak,” tuturnya.
Pemantauan hilal di Observatorium Bosscha, Lembang, Kab. Bandung, Jawa Barat (Jabar), kemarin (5/6) juga tidak berhasil melihat hilal. Tiga petugas pengamat hilal yang diutus oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) yakni Zainuddin M. Arifin, Wildan Hidayat, dan Evan Irawan Akbar dibuat pusing dengan kondisi cuaca yang mendung, berawan pekat, dan bahkan sedikit berangin yang terjadi di lokasi yang memiliki ketinggian 1.310 meter dpl itu.
Padahal, mereka beserta rombongan timnya telah bersiap sejak siang hari beserta peralatan lengkapnya untuk mengamati hilal. Yakni tiga buah teleskop portabel jenis refraktor, William Optics 66 milimeter. Namun hingga adzan Maghrib terdengar, kondisi cuaca masih enggan mengalah, malah hujan yang turun.
Akhirnya, dengan terpaksa dan agak kecewa mereka harus membongkar teleskop yang telah dirakit. “Sudah nggak mungkin kelihatan mata telanjang, bahkan pakai teropong sekalipun,” kata salah satu petugas pengamat hilal di Observatorium Bosscha, Evan kepada Jawa Pos kemarin.
Dia menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang kurang ramah saat pemantauan hilal memang sudah menjadi langganan Observatorium Bosscha sejak dulu. Sejak dipercaya pemerintah untuk menjadi lokasi pengamatan hilal pada pada sembilan tahun silam, tepatnya pada 2007 lalu, keberhasilan para pengamat hilal untuk melihat hilal secara jelas bisa dihitung jari.
Yakni pada 2009, 2011, dan 2013. “Sisanya ya nggak kelihatan karena cuacanya buruk di sini,” tuturnya Kepala Observatorium Bosscha Mahasena Putera menyebut bahwa observatorium pertama sekaligus yang tertua di Indonesia tersebut bukanlah lokasi yang ideal untuk mengamati hilal. Dia menerangkan, selain langganan cuaca buruk, lokasi tersebut terlalu terganggu oleh cahaya lampu dari gedung dan pemukiman penduduk di sekitarnya.
“Yang ideal itu justru ada di Indonesia bagian Timur seperti di Kupang. Karena di sana langitnya jarang berawan seperti di sini,” terang pria yang mulai menjabat sebagai kepala sejak 2012 tersebut.
Kendati demikian, Mahasena tetap menyampaikan laporan hasil pengamatannya beserta tim pengamat hilal kepada sejumlah perwakilan yang hadir, di antaranya perwakilan dari Pengadilan Agama (PA) Kota Bandung, perwakilan Kementerian Agama (Kemenag), dan perwakilan Badan Hisab Rukyat (BHR) Kota Bandung.
“Kami sudah menjelaskan kepada mereka bahwa hilal mustahil terlihat karena cuaca yang tidak mendukung,” kata Mahesa. Tapi berdasarkan hitungan astronomis yang sudah baku, hilal sebenarnya sudah ada di sebelah kiri atas Matahari dengan selisih waktu terbenam 20 menit. lagi. (wan/far/dod/ce1)
Related Keywords
lebaran 2016 di prediksi kompakArtikel Terkait
Ketua STEBIS IGM Jadi Narasumber Pelatihan BKD–RBKD Dosen PTKIS Kopertais Wilayah VII
STEBISIGM.ac.id, Palembang — Laporan Beban Kerja Dosen (BKD) dan Rencana Beban Kerja Dosen (RBKD) memegang peranan penting dal...
Delegasi UKM Jalin Kolaborasi Akademik dengan UIGM, Perkuat Sinergi dan Angkat Budaya Lokal
STEBISIGM - Sebanyak 20 delegasi dari Fakultas Ekonomi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) melakukan kunjungan akademik ke Universitas ...
Mahasiswa STEBIS IGM Salurkan Dana Abadi Anak Yatim Dapat Dukungan Pendidikan
STEBISigm.ac.id, Palembang – Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) STEBIS Universitas Indo Global Mandiri (IGM) kembali menunjukkan kepeduli...
Visitasi Kemenag STEBIS IGM Selangkah Lagi Bergabung dengan Universitas Indo Global Mandiri
STEBISigm.ac.id, Palembang – Proses penggabungan Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Syariah (STEBIS) Indo Global Mandiri (IGM) ke Uni...
STEBIS IGM Angkat Kebanggaan Budaya Lewat Gathering Berbusana Adat
STEBISigm.ac.id, Palembang – Suasana penuh warna dan keceriaan mewarnai gathering Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam (STEBIS) I...
M Rizki dan Vivien Harmine Dinobatkan sebagai Putra Putri Syariah STEBIS IGM 2024
STEBISigm.ac.id, Palembang – Ajang pemilihan Putra Putri STEBIS Indo Global Mandiri (IGM) 2024 berlangsung meriah di Aula Lantai XII...
STEBISIGM.ac.id, Palembang – Sekolah Tinggi Ekonomi Bisnis dan Syariah (STEBIS) Indo Global ... 

