mail@stebisigm.ac.id

Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Syariah

Ribuan Orang Teken Petisi Tolak Rencana Sekolah Sehari Penuh

Diposting pada tanggal 11 Agustus 2016

Seorang guru dengan menggendong anaknya, mengajadri sejumlah siswa belajar di Sekolah Dasar Darurat Tanjung Jaya, Pandegelang, Banten, 25 Agustus 2014.


Jakarta
- Baru sekitar satu pekan dilantik, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengemukakan wacana penambahan jam belajar di sekolah hingga pukul 5 sore.

Wacana tersebut kontan mendapat penolakan. Seorang netizen yang juga orang tua siswa, Deddy M. Kresnoputro, menggalang dukungan melalui petisi di laman Change.org yang memprotes wacana tersebut.

Per pukul 15.32 WIB, hari ini (9/8/2016), petisi berjudul “Tolak pendidikan full day/sehari penuh di Indonesia” tersebut mengantongi 21.630 dukungan.

 

"Belum selesai kita membenahi masalah kurikulum yang kerap kali diacak-acak, sekarang muncul wacana untuk Anak Sekolah Sehari Penuh, dengan alasan pendidikan dasar saat ini tidak siap menghadapi perubahan zaman yang begitu pesat. Semoga bapak-bapak dan ibu-ibu tahu bahwa tren sekolah di negara-negara maju saat ini adalah mengurangi waktu sekolah, tidak ada pekerjaan rumah, dan lebih pada pembangunan karakter anak," kata Deddy di dalam petisinya.

 

Di dalam petisinya, Deddy juga mengutip tulisan seorang guru yang menyoroti bahwa membiarkan anak sehari penuh bersekolah sama halnya seperti melepas tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya ke sekolah. Tak hanya itu, hal ini dianggap pula merenggut interaksi antara anak dengan orang tua.

Bila kondisi demikian terjadi, Deddy mengatakan orang tua akan memilih home schooling atau bersekolah di rumah sebagai opsi pendidikan bagi anak-anaknya.

 

Sebanyak 21.614 orang menandatangani petisi menolak rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang ingin memperpanjang jam sekolah bagi pelajar (full day school). Petisi itu digagas orang tua murid, Deddy Mahyarto Kresnoputro.

“Semoga dengan mengisi petisi ini kita bisa membuat para pembuat kebijakan sadar bahwa pilihan ini justru berbahaya,” ujar Deddy, seperti dikutip dari laman petisinya di situs Change.org, Selasa, 9 Agustus 2016.

Petisi itu membutuhkan 25 ribu tanda tangan untuk mencapai target dukungan. Deddy berharap, petisi ini mendorong orang tua dan praktisi pendidikan mencari solusi terbaik bagi kemajuan anak-anak Indonesia.

Selain untuk orang tua murid, petisi akan dikirimkan langsung kepada Presiden Joko Widodo dan Mendikbud Muhadjir Effendy.



Menteri Muhadjir menyampaikan gagasan sekolah sehari penuh dengan alasan memperpendek waktu siswa berada di luar sekolah. Karena itu, siswa mendapat tambahan jam untuk belajar pendidikan karakter budi pekerti dari para guru. Muhadjir memperoleh ide itu dari Finlandia, yang dinilai memiliki sumber daya manusia terbaik. Di sana, siswa diberikan pendidikan karakter.

Muhadjir beralasan, gagasan penerapan konsep sekolah sehari penuh didasarkan pada program Nawa Cita Presiden Joko Widodo. Pada program itu, pendidikan dasar diharuskan terdiri atas komposisi 70 persen karakter dan 30 persen pengetahuan. Sedangkan pendidikan menengah pertama 60 persen karakter dan 40 persen pengetahuan.

Muhadjir mengatakan program itu dapat membentuk budi pekerti dan karakter para siswa. “Dasar saya ini. Kemudian kami cari cara bagaimana implementasinya,” katanya di kawasan SCBD Senayan, Selasa, 9 Agustus 2016. Ia menambahkan, program pendidikan budi pekerti ditekankan dari level pendidikan dasar.

Menurut Muhadjir, pihaknya tengah mengkaji rencana penerapan sekolah sehari penuh. Poin penting yang akan dicapai adalah penanaman budi pekerti bagi para siswa. Ia mengatakan sudah ada ukuran keberhasilan dari pendidikan karakter atau budi pekerti yang akan dilakukan. Di antaranya jujur, toleransi, disiplin, dan cinta Tanah Air. “Itu sudah ada pedomannya,” ujarnya.

Muhadjir menuturkan pembentukan budi pekerti tidak cukup dilakukan saat pembelajaran efektif di dalam kelas. Konsep sekolah sehari penuh yang akan diterapkan mengacu pada kegiatan ekstrakurikuler. Sehingga, kata dia, perlu ada tambahan waktu, khususnya di jenjang sekolah dasar hingga SMP di luar jam pelajaran.

Istilah sekolah sehari penuh mengemuka saat ini. Meski begitu, Muhadjir mengatakan kurang sependapat dengan istilah sekolah sehari penuh. Sebab, istilah itu akan terkesan siswa berada seharian penuh di sekolah. Padahal, kata dia, konsep sekolah sehari penuh maksudnya siswa diwajibkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler agar membentuk karakter dan budi pekerti.

 

 


Link sumber: Tempo.co | Tekno |change.org

Versi cetak

Related Keywords

ribuan orang teken petisi tolak rencana sekolah sehari penuh

Artikel Terkait


STEBIS IGM Palembang Berkomitmen Tingkatkan Literasi Keuangan Syariah Melalui ToT OJK dan UIN Raden Fatah

STEBIS IGM Palembang Berkomitmen Tingkatkan Literasi Keuangan Syariah Melalui ToT OJK dan UIN Raden Fatah

STEBISIGM, Palembang – Fakultas Bisnis Syariah (FBS) STEBIS IGM Palembang menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan litera...


Tingkatkan Kompetensi, Siswi SMK Muhammadiyah 1 Palembang Lakukan Magang di Kampus STEBIS UIGM

Tingkatkan Kompetensi, Siswi SMK Muhammadiyah 1 Palembang Lakukan Magang di Kampus STEBIS UIGM

  STEBISIGM.ac.id, Palembang – Sebanyak lima siswa dari SMK Muhammadiyah 1 Palembang, yaitu Jasmine Aulia Fitri, Nailul Choiria,...


Bentuk rasa syukur lebaran idul adha 1445H keluarga besar yayasan igm berkurban Sapi Simmental

Bentuk rasa syukur lebaran idul adha 1445H keluarga besar yayasan igm berkurban Sapi Simmental

STEBISIGM.ac.id, Palembang - Pada hari lebaran Idul Adha 1445H/2024M ini di kampus STEBIS IGM, sebuah kegiatan penyembelihan hewan kurban ...


STEBIS IGM dan Penerbit Erlangga Jalin Kerjasama Melalui Penandatanganan MoU

STEBIS IGM dan Penerbit Erlangga Jalin Kerjasama Melalui Penandatanganan MoU

  STEBISigm.ac.id - Palembang, Hari ini, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Inggris (STEBIS) IGM mengumumkan penandatanganan Memorandum of U...


Kampus IGM Palembang Menggelar Workshop Publikasi Ilmiah Manajemen Referensi dan SEM PLS

Kampus IGM Palembang Menggelar Workshop Publikasi Ilmiah Manajemen Referensi dan SEM PLS

   Kampus STEBIS IGM, Palembang - Kembali menggelar Workshop Publikasi Ilmiah Manajemen Referensi kali ini ada tambahan pegguna...


Kepengurusan tiga himpunan dikampus igm sudirman palembang kembali dikukuhkan

Kepengurusan tiga himpunan dikampus igm sudirman palembang kembali dikukuhkan

STEBISIGM, Kampus Sudirman - Hasil Rapat SENAT pada tanggal 27 Mei 2024 diputuskan bahwa pelantikan masa Jabatan Ketua / Sekretaris / Angg...