Petani Budidaya Jamur Tiram

19 Mei 2016

 ”Petani jamur tidak boleh terus-terusan jadi petani. Mereka harus jadi pengusaha jamur,” ujar Hepny saat ditemui di kediaman barunya di area Kantor Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pertengahan April lalu.

KOMPAS/JUMARTO YULIANUS

Lelaki berusia 41 tahun yang disapa Eep Jamur itu pindah dan memboyong keluarganya ke rumah dinas tersebut Januari 2016 agar bisa fokus untuk menularkan ilmu budidaya jamur kepada para petani. Ia rela meninggalkan rumah lamanya dan usaha budidaya jamur yang telah menghasilkan 70 kilogram sehari. Jika diuangkan bisa mencapai Rp 1,75 juta.

Ia juga mesti berjauhan dengan sejumlah petani jamur binaannya. ”Beberapa di antara mereka kini telah berhasil menjadi petani jamur dan rela meninggalkan pekerjaan sebelumnya karena penghasilan dari jamur lebih menjanjikan,” ungkapnya.

Di rumah barunya itu, Hepny ditugaskan untuk membudidayakan dan membuat pembibitan jamur. Bibit jamur yang dibuatkan selanjutnya disebarkan kepada para petani plasma. Dengan begitu, mereka tidak lagi bergantung pada bibit jamur yang didatangkan jauh-jauh dari Pulau Jawa.

 

Generasi pertama

Hepny termasuk generasi pertama pembudidaya jamur tiram di Kalimantan Selatan. Ia memulai budidaya jamur pada 2005 setelah mengikuti pelatihan budidaya jamur yang diselenggarakan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalsel. ”Waktu itu, hanya kami berempat yang langsung mencobanya,” ujarnya.

Ia memulai budidaya jamur dengan menggunakan media tanam (baglog) jamur tiram sebanyak 300 buah. Media tanam dan bibitnya didatangkan dari Pulau Jawa. ”Hasilnya langsung bagus. Waktu pertama kali panen, jamur itu dibagi-bagikan secara gratis kepada tetangga. Setelah itu, kalau ingin jamur tiram, mereka pasti membelinya dari saya,” ujarnya.

Setelah satu tahun menikmati hasil budidaya jamur tiram, Hepny mulai mencoba membuat media tanam jamur sendiri. Dengan begitu, keuntungan dari budidaya jamur lebih besar. Menurut dia, modal untuk membuat 1.000 media tanam berkisar Rp 2,5 juta-Rp 3 juta. ”Jika beli media tanam yang sudah jadi, harga 1.000 baglog mencapai Rp 6 juta,” ujarnya.

Tahun 2006, Hepny sudah memproduksi media tanam jamur untuk kebutuhan sendiri dan beberapa petani jamur lainnya. Meski sudah bisa membuat media tanam jamur, bapak tiga anak ini masih harus mendatangkan bibit jamur dari Pulau Jawa. Perlahan-lahan, ia pun mencoba membuat bibit jamur sendiri supaya tidak bergantung pada pasokan bibit dari luar pulau.

”Dari internet, saya belajar membuat bibit jamur sendiri. Tahun 2008, saya mulai bisa membuat bibit tebar jamur tiram atau F2 yang diturunkan dari bibit induk atau F1. Dari satu botol F1 dihasilkan sekitar 50 botol F2,” katanya.

Berhasil membuat bibit tebar jamur tiram mendorong Hepny untuk terus belajar membuat bibit induk jamur tiram dan biakan murni jamur tiram atau F0. Berbeda dari F1 dan F2 yang dibuat dari biji-bijian, seperti jagung dan gabah, F0 dibuat dari PDA (potatoes dextrose agar atau kentang dextrosa agar). Pembuatannya pun lebih rumit. ”Saya berhasil membuat F0 setelah tiga kali gagal,” ujarnya.

Sejak 2009, Hepny tidak lagi memesan bibit jamur tiram dari Pulau Jawa karena sudah bisa membuat bibit sendiri. Ia mendapat sertifikat kompetensi produsen benih hortikultura dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalsel pada Agustus 2014.

Sejak saat itu, Hepny menerima banyak pesanan bibit jamur dari para petani jamur. ”Sebagian pemesan dari luar Kalsel,” ucapnya.

 

Mendampingi petani

Setelah sukses menghasilkan bibit jamur dan membudidayakannya, Hepny terjun sebagai tenaga harian lepas tenaga bantu penyuluh pertanian di Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin sejak 2007. Ia mendampingi petani-petani jamur yang mulai menjamur di Banjarmasin dalam dua tahun terakhir.

Hingga akhir 2015, jumlah petani jamur di Banjarmasin baru 35 orang. Sekarang, jumlahnya sudah mencapai 75 orang. Jumlah petani jamur akan terus bertambah karena Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin mengembangkan pertanian jamur dengan sistem plasma.

”Dengan mengikuti sistem plasma, petani jamur bisa mendapatkan media tanam yang sudah diberi bibit tebar seharga Rp 2.000 per satuan. Petani mendapat subsidi Rp 4.000 dari harga normal Rp 6.000 per satuan,” jelasnya.

Permintaan bibit jamur dan media tanam pun terus meningkat. Kini, permintaan media tanam rata-rata 3.000 per minggu dan bibit tebar mencapai 200 botol per minggu. Satu botol bibit tebar bisa untuk 50 media tanam. Hepny sering mengadakan pelatihan membuat media tanam dan bibit kepada para petani agar pengeluaran mereka bisa ditekan.

”Dengan membuat media tanam sendiri, keuntungan petani jamur akan lebih besar. Harapannya, mereka nanti tidak hanya menjadi petani, tetapi juga bisa menjadi pengusaha yang mengusahakan jamur dari hulu sampai hilir,” katanya.

Hepny merasa sangat senang jika petani-petani jamur bermunculan seperti cendawan di musim hujan. Ia tidak khawatir para petani jamur yang baru itu akan menjadi pesaingnya di bisnis jamur. Buat dia, rezeki dari jamur mesti dinikmati orang banyak, bukan hanya dia nikmati sendirian.

 

 

 


Sumber: Kompas | Edisi Cetak Kompas edisi 19 Mei 2016, di halaman 16 dengan judul "Menyebarkan Rezeki Jamur".

 

 

 

 


Sumber : STEBIS IGM http://stebisigm.ac.id
Selengkapnya : http://stebisigm.ac.id/artikel/288/Petani-Budidaya-Jamur-Tiram.html