
Yuk, Bisnis Budidaya Ayam Kampung
Diantara bisnis beternak unggas, saat ini budidaya ayam kampung paling menjanjikan. Permintaan daging ayam kampung atau lokal terus naik seiring peningkatan konsumsi dan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi produk unggas.
Berbeda dengan usaha budidaya ayam ras yang pasar domestiknya termasuk kategori "jenuh" dan terus bergejolak, budidaya ayam kampung lebih stabil. Harga jual produknya yang relatif tinggi cukup stabil.
Bagi yang ingin memulai bisnis ayam kampung, bisa segera direalisasikan. Untuk tahap awal, mencari lokasi yang sesuai bagi perkembangan ayam kampung. Lokasinya bisa di dataran tinggi yang cuacanya dingin ataupun di dataran rendah yang suhu udaranya relatif lebih tinggi. Sudah ada teknologi yang bisa diterapkan untuk mengadapi ini.

Lahan untuk kandang budidaya tidak perlu terlalu luas. Sebaiknya, lokasi yang dipilih tidak terlalu dekat dengan pemukiman. Namun, demi alasan keamanan, jangan terlalu jauh juga dari lokasi pemukiman penduduk.
Lahan yang disediakan bisa sekitar 1.000 meter persegi untuk memelihara sekitar 5.000 ayam kampung. Langkah selanjutnya, membangun kandang. Untuk lahan seluas 1.000m2 cukup 500m2 untuk membangun kandang.
Biaya membangun kandang sekitar Rp 200.000 per m2 sehingga perlu biaya Rp 100 juta untuk membangun 500m2. Prlu dihitung juga biaya untuk membeli peralatan budidaya, mulai dari tempat makan, minum, hingga kebutuhan lain, sekitar Rp 10 juta.
Biaya untuk membeli bibit ayam kampung seharga Rp 6.500 per ekor. Dengan demikian, perlu Rp 32,5 juta untuk 5.000 bibit ayam kampung. Kebutuhan pakan selama 70 hari untuk masa pemeliharaan sekitar 30 ton, seharga Rp 93 juta.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan vaksin dan vitamin Rp 1 juta, gas dan listrik Rp 1 juta, serta upah pekerja Rp 3 juta. Secara keseluruhan, dibutuhkan biaya modal Rp 130,5 juta.

Dengan toleransi kematian 2-3 persen, pendapatan selama masa pemeliharaan Rp 165 juta. Tidak seperti ayam kampung yang dilepas, yang memerlukan waktu 6 bulan, usaha ayam kampung intensif memerlukan masa pemeliharaan 70 hari dengan berat rata-rata ayam 0,95 kilogram.
Faktor risiko
Tidak ada binis yang mulus dan tanpa risiko. Yang penting, kita mengenali fakor risiko dan cara mengatasinya. Dalam praktik budidaya, disiplin mutlak diperlukan.
Faktor risiko utama adalah serangan penyakit. Oleh karena itu, pastikan desain kandang bersih, nyaman, dan jauhkan dari jangkauan binatang pemakan ayam. Sebagai pemain baru di usaha budidaya ayam kampung, sebaiknya jangan memulai usaha ini pada musim hujan karena ayam menjadi rentan sakit.
Untuk menambah jaringan dan teman bertukar informasi, Anda bisa bergabung dengan Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia. Jangan lupa juga untuk mencari pasar.
Nikmati proses memulai usaha. Kalau peternak lain bisa sukses, tentu Anda juga bisa. (Herman Prabowo-diketik ulang RudiSTEBIS)
Sumber : Kompas | Kolom Ekonomi Sabtu, 20 Agustus 2016